Sabtu, 25 Juni 2011

SAMPAH DAN PROBLEM LINGKUNGAN* *


Oleh : Muhammad Syamsul Arifin*
           
Lingkungan merupakan hal yang urgen yang tidak bisa kemudian kita lepaskan dari diri kita. Secara definitif Lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan. Dan lingkungan alam adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme (makhluk hidup). Sedangkan lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada disekeliling makhluk hidup yang mempunyai pengaruh timbal balik terhadap makhluk hidup tersebut (M. Talhah dan Achmad mufid A.R.; fiqih ekologi). Jadi dalam hal ini segala sesuatu-Nya yang ada di sekeliling kita baik itu terkait dengan manusia, tumbuhan, dan hewan disebut bagian dari lingkungan hidup.
            Satu permasalahan yang sering diremehkan terkait dengan pencemaran lingkungan, kalau tidak benar-benar dilupakan, bagi masyarakat kita adalah persoalan sampah. Secara definitif  menurut undang-undang No. 18 tahun 2008. sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Jika menurut kamus wikipedia,  sampah adalah material sisa yang tidak di inginkan setelah berakhiran-Nya suatu proses.
Banyak dari kita dengan mudahnya membuang sampah di sembarangan tempat. Padahal dampak dari pembuangan sampah yang bukan di tempatnya banyak sekali efek negatifnya. Dampaknya bisa berupa tinggal tidak nyaman, bau tidak sedap, penyakit merajalela, dan lain-lain.
            Jika kita berkunjung ke luar negeri sana. Maka kita akan melihat peristiwa yang kontras dengan Indonesia. Disadari atau tidak Indonesia sudah tertinggal. Mereka sudah mempunyai budaya tertib membuang sampah pada tempat. Sejak kecil sudah dididik untuk membuang sampah pada tempatnya. Sedangkan di Indonesia bagaimana?.
            Marilah dibayangkan jika satu orang membuang satu sampah plastik tiap harinya. Jika sampai se-bulan maka paling tidak telah membuang 30 plastik sampah. Dan jika sampai se-tahun maka kurang lebih telah membuang 360 sampah plastik. Misalkan se-RT terdiri dari 50 kaka (kepala keluarga) dan satu kaka misalkan terdapat 5 orang dengan kepala keluarganya. Maka se- RT terdiri dari 250 orang. Dan dalam se-tahun  paling tidak se-RT telah membuang  sampah plastik sebanyak 90.000.
            Se-RT saja dalam setahun saja paling tidak telah membuang 90.000 sampah plastik, angka tersebut bukanlah nominal yang sedikit. Belum lagi se-RW, se-dukuh, se-kelurahan, se-kecamatan, se-kabupaten, dan se-negara banyaknya jumlah sampah plastik. Dan belum lagi jenis sampah-sampah lain-Nya, baik itu sampah dalam bentuk organik dan sampah on-organik.   
            Perlu juga diketahui, bahwa banyak kota-kota yang kebanjiran termasuk ibukota Indonesia sendiri (Jakarta) disebabkan salah satunya oleh sampah yang menumpuk. Banjir merupakan problem yang juga salah satunya disebabkan oleh sampah yang menumpuk, membuang sampah di sungai-sungai. Demam berdarah juga merupakan problem yang disebabkan menumpuknya sampah bukan pada tempatnya.
Sampah di anggap sesuatu yang tidak lagi berguna dan bisa di buang kapan dan di manapun juga, apalagi bagi sebagian masyarakat yang kebetulan bertempat tinggal di tepian sungai, bila dipastikan sungai akan beralih fungsi sebagai tempat pembuangan sampah.
Selanjutnya persoalan sampah tidak bisa dipisahkan dari jumlah penduduk yang menempati suatu wilayah ditambah luas wilayah yang ditempati itu sendiri. Yang demikian, memungkinkan adanya beberapa pandangan.
Pertama, kepadatan penduduk sangat mempengaruhi berapa banyak jumlah sampah yang dibuang setiap hari. Kedua, pola hidup yang serba konsumtif menjadi sumber utama banyaknya sampah yang harus dibuang setiap hari. Ketiga, jika kepadatan penduduk tidak seimbang dengan lahan yang menjadi tempat tinggal maka, penumpukan sampah secara besar-besaran menjadi sebuah keniscayaan.
Oleh sebab itu, marilah kita awali dengan tertib membuang sampah pada tempatnya. Bukan-Nya kita sering mendengar dalam doktrin agama, yang tepatnya hadis Rasul SAW yaitu  : kebersihan sebagian daripada iman (HR bukhori).
Kita semua harus mulai menyadari pentingnya tidak membuang sampah sembarangan,  disamping tugas pemerintah untuk mencari solusi bagi pendaurulangan limbah sampah, agar :
Pertama, sungai yang asalnya bersih dan dalam jangan sampai dangkal karena penumpukan sampah yang begitu besar, sehingga kemudian menngakibatkan banjir. Kedua, tanah yang asalnya gembur dan subur jangan sampai tandus dan kering karena tumpukan sampah non organik yang ada di dalamNya-sehingga mengganggu tingkat kesuburan tanaman. Ketiga, sumber mata air seperti sumur dan telaga jangan sampai bau karena efek pembusukan sampah non-organik yang meresap kedalam pori-pori bumi-sehingga menggangu tingkat kebersihan air
              Lain dari itu, sesungguhnya jika kita gali lagi, ternyata sampah juga bermanfaat. Dengan adanya pengelolahan sampah  sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah, maka bukan hanya aspek kenyamanan tinggal saja yang didapatkan. Tetapi juga aspek ekonomi  didapatkan. Jumlah angka pengangguran menjadi berkurang. Kesejahteraan masyarakat menjadi     tercukupi.
            Agar supaya dapat terealisasi. maka tentunya selain di butuhkan peranan pemerintah dalam hal ini, juga dibutuhkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi daripada masyarakat   agar terjadi pula sinergitas antara pemerintah dan masyarakat.  Selain untuk jaga lingkungan juga untuk kesejahteraan bersama.        
   
*Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas sains dan teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakrta
**dimuat di Harian Jogja Raya Jawa Pos Pada edisi 7 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar